Sabtu, 10 Januari 2015






SANG SURYA
Aku nyalakan semua lentera yang ada di rumah, ku pasang disetiap sudutnya dengan jarak yang berjauhan. Lalu sudut pintu kamar ku buka jendela, seraya berdiri memandang ke langit yang indah penuh dengan kerlipan bintang. Aku melamun sedalam-dalamnya. Terbayang Sosok wanita renta dibentak ku. Perlahan, lamunannya semakin dalam, dalam dan terus membawaku pada sosok wanita renta itu.
Braaaakkkkkkkkk……….
Aku terkejut mendengar suara itu. “ suara apa ya?” ujarku kaget. Secara otomatis, aku berlari keluar kamar. Kulihat lentera itu terjatuh kelantai, minyaknya menyebar hingga apinya membesar.
“Astaghfirullah, kenap ini ?” aku begitu panik saat itu.
Kembali ku berlari ke dapur, mengambil segayung air untuk memadamkan api. Ku siram dan matilah api itu. Ku bersihkan bekas siraman air dari gayung yang sudah tercampur dengan minyak.
“ ketika lentera itu menerangi, tapi adakala ia terjatuh dan minyaknya berhamburan kemana-mana ia begitu ganas dan padam begitu saja saat tersiram air “. Ujarku dalam hati.
Setelah semuanya rapi kembali, ku berdiri menggapai langkah menuju kamar. Melirik jendela yang terbuka, ku hampiri dan ku terbawa lagi dalam lamunan tadi. Yang mana lamunan itu menggambarkan sosok wanita renta yang terus bermain-main dibenakku. Ia begitu kurus, bungkuk, keriput, dan kumel. Ia seperti orang yang begitu kelelahan. Namun senyumannya tergaris indah disudut bibirnya. Lamunan itu mengingatkanku 10 tahun silam. Pada waktu itu, aku genap berusia 8 Tahun dan mengenyam pendidikan di sekolah dasar  yang terbaik di kampungku. Aku digendong wanita itu, ia begitu kuat dan semangat mengantarkanku ke sekolah. Keringatnya bercucuran menembus baju dan kerudungnya. Aku terbahak-bahak digendongannya. Ia bercerita sepanjang jalan, hingga beberapa menit sekali aku tertawa.
“kancil itu terbang ke awang-awang, lalu hinggap di pulau bidadari dan ia mencintai bidadadari itu”. Ujar ibu sambil menggendongku.
Kalau ingat cerita itu, aku  menggaruk kepala dan tertawa sendiri. Bayangkan saja bagaimana tidak tertawa !, mana ada kancil yang bisa terbang. Aku tertawa semakin menjadi-jadi dan berhenti seketika saat ibu berlari, karena mendengar bel di sekolah sudah berbunyi. Ibu memang tidak pernah membuatku susah, sedih, kecewa, dan kesiangan sekalipun. Hanya saja karena saking asyik bercerita dan menggendongku, ibu lupa bahwa waktu itu cepat berputar. Hingga sampai lingkungan sekolahpun, bel sudah berbunyi. Diturunkannya aku dari gendongannya, dan dipakaikannya kepadaku tas gendong bergambar hello kitty.
“belajar yang benar,  jadi anak pintar, shaleh, dan banggakanlah mamah” ucap dia tiap hari sambil mengecup jidat dan kedua pipiku. Lalu ku balas ciuman dia dengan mencium kedua pipinya.
“dadah mamah, jemput lagi ya pulangnya !” ujarku sambil berlari kedalam kelas.
 Itulah rutinitas ibu ketika denganku, begitu romantic dan manja.
Setiap pagi aku disisir dan diikatkan rambut dengan dua tali, disuapin, digendong, dijemput, hingga sampai ditidurkan saat malam tiba. Ibu bagaikan ayah dan sahabat, yang selalu ada tidak pernah meninggalkanku dnan selalu mengerjakan semua tugas-tugasnya…………..
“ah,,, apa sih , kok jadi mellow kayak gini!” ujarku saat mengusap air mata yang tak terasa mengalir deras dipipiku.
Kututup jendela dan ku mulai berbaring, menutup mata dengan menumpukan bantal-bantal dan menyelimuti seluruh tubuh dengan badcover yang tebal.
‘’ kalau beliau menyayangiku tak mungkin ia tega meninggalkan ku saat itu. Aku benci dia….’’ Protesku dalam hati.
****
Allahuakbar allahu akbar…….
‘’eump, udah pagi toh’’ sambil menggesek – gesek mata.
Pagi itu aku mandi dan segera siap siap untuk mengikuti kajian di masjid fallah bersama ustadzah maemunah.ustadzah maemunah adalah ustadzah terbaik dan terdekat dengan ku,sehingga kami sudah seperti anak dan ibu kala bersama. Dari ustadzah maemunah juga aku belajar mengaji dan belajar memakai kerudung.
Masih ingat, waktu itu aku kelas viii smp. Aku bersama beliau pergi kesebuah pasar dan beliau membeli peralatan kerudung anaknya ka Zahra. Tanpa aku sadari dia bertanya Tanya warna apa yang bagus,ukurannya,serta modelnya yang aku sukai.
’’heran ustadzah, masa beli buat anaknya nanya nanya aku’’ ujarku menggerutu.
‘’ ustadzah ini buat ka Zahra kan?’’ Tanya ku penasaran.
‘’ heee, bagus kan?, ini buat kamu nak khumairoh’’ sambil tersenyum.
Akupun terkejut saat mendengar pernyataan ustdzah maemunah berbicara seperti itu.
‘’ nak khumairoh, ibu sudah menganggap anak kepada nak khumairoh. Ibu sayang kepada nak khumairoh, bolehkan ibu meminta nak khumairoh memakai jilbab?’’ Tanya beliau pada ku.
Aku hanya bisa diam saat itu…….
*** 
oh ya,aku berangkat ke masjid fallah  untuk menceritakan semua bayang - bayang serta semua mimpi – mimpi dua pekan lalu.
‘’ assalamualaikum, ustdzah?’’
‘’ wa’alaikumsalam Wr. Wb. Nak khumairoh’’ Ujar ustadzah memunah.
Saat itu aku begitu bersemangat untuk bercerita pada ustadzah maemunah.
‘’AA ZZ AA ZZ AA zz’’ ku bercerita,  tanpa  titik koma sambil agak kesal.

 ‘’nak, tahukah kamu surga ada dimana?,tentunya nak khuimairoh pasti tahu kan?. Surga itu ada di telapak kaki ibu.
‘’ ya, tahu ustadzah. Lalu?’’
‘’ lalu kenapa nak khumairoh begitu kesal dan kecewa sama ibu nak khuimairoh?,m padahal nak khumairoh tidak tahu apa alasan beliau sebenarnya.’’ Ujar bu ustadzah kepada ku.
‘’ nak, jadi begini ceritanya…
‘’ ibu nak khuimairoh waktu itu bercerai dengan ayah nak khumairoh,  lalu beliau menyerahkan nak khumairoh kepada ayah nak khumairoh. Karena ibu nak khumairoh tidak ingin nak khumairoh sengsara,hidup dengan beliau.kalo nak khumairoh bersama ibu,  berarti nak khumairoh akan sengsara,penghasilan buruh cuci yang hanya cukup untuk makan seorang dan itu pun alakadarnya tidak mungkin bisa menyekolahkan nak khumairoh. Sedangkan jika nak khumairoh bersama ayah, nak khumairoh akan sekolah setinggi mungkin dan akan menjadi orang seperti sekarang ini. Nak, itu semua ia lakukan karena ia sayang padamu. Jadi tak semua kesalahan ada pada diri ia,karena ia tidak tahu dan tidak berpendidikan saat itu,nak khumairoh harus mengerti juga kepada ibu. Sebagai seorang ibu,ibu juga pasti akan berbuat seperti itu demi kebahagiaan anaknya, dan mengorbankan perasaan rindunya. Mungkin jika saat ini nak khumairoh selalu di bayang- bayangkan oleh sosok beliau, bisa saja ia menangis menahan rindu sekarang.’’ Ujar bu ustadzah.  
Aku menangis sedih dan malu kepada diri sendiri, bahwa selama ini aku sudah mendzolimi ibu secara tidak langsung. Dan rasanya tak ada gunanya aku ikut pengajian tiap hari jika ibu sendiri tersakiti oleh sikap ku.
‘’ mamah ‘’ ujarku pelan
Segera ku pamit ke ustadzah khumairoh dan bergegas pergi ke perkampungan terpencil di sebuah kota di daerah timur Indonesia. Dua jam menempuh perjalanan darat dan satu jam perjalanan udara, akhirnya aku sampai di tempat yang aku tuju. Seorang ibu renta,yang keriput dan bungkuk Nampak jelas berdiri membelakangi
‘’ ibu, maafkan aku, aku sudah jadi anak yang durhaka kepada mu, aku membiarkanmu bersedih dan menangis menahan rindu.’’ Ujar ku sambil terisak isak.
‘’ tak mengapa nak, ibu ikhlas asalkan kamu bahagia nak.’’ Kata beliau sambil memelukku.
Ku peluk balik beliau dengan sangat erat.
‘’ Bagiku, ibu ibaratkan sang surya, sinarnya yang begitu terang tanpa henti menyinari. Kalau siang ia begitu cantik dengan sinarnya yang panas dank ala malam ia begitu anggun dengan sinarnya yang mengedip- ngedip. Sang surya tetap menyinari sedangkan lentera di malam itu mati seketika saat ia tersiram air. Kasih sayang ibu tiada bandingannya walaupun dibeli oleh miliaran rupiah tak akan terbayarkan.’’ Gumamku dalam hati.
Kini di bawah langit senja, Di upuk timur ku temui lentera hidupku dan kurajut kembali cinta cintanya, mama.

















 




Tidak ada komentar:

Posting Komentar