SANG SURYA
Aku
nyalakan semua lentera yang ada di rumah, ku pasang disetiap sudutnya dengan
jarak yang berjauhan. Lalu sudut pintu kamar ku buka jendela, seraya berdiri
memandang ke langit yang indah penuh dengan kerlipan bintang. Aku melamun
sedalam-dalamnya. Terbayang Sosok wanita renta dibentak ku. Perlahan,
lamunannya semakin dalam, dalam dan terus membawaku pada sosok wanita renta
itu.
Braaaakkkkkkkkk……….
Aku
terkejut mendengar suara itu. “ suara apa ya?” ujarku kaget. Secara otomatis,
aku berlari keluar kamar. Kulihat lentera itu terjatuh kelantai, minyaknya
menyebar hingga apinya membesar.
“Astaghfirullah,
kenap ini ?” aku begitu panik saat itu.
Kembali
ku berlari ke dapur, mengambil segayung air untuk memadamkan api. Ku siram dan
matilah api itu. Ku bersihkan bekas siraman air dari gayung yang sudah
tercampur dengan minyak.
“
ketika lentera itu menerangi, tapi adakala ia terjatuh dan minyaknya
berhamburan kemana-mana ia begitu ganas dan padam begitu saja saat tersiram air
“. Ujarku dalam hati.
Setelah
semuanya rapi kembali, ku berdiri menggapai langkah menuju kamar. Melirik
jendela yang terbuka, ku hampiri dan ku terbawa lagi dalam lamunan tadi. Yang
mana lamunan itu menggambarkan sosok wanita renta yang terus bermain-main
dibenakku. Ia begitu kurus, bungkuk, keriput, dan kumel. Ia seperti orang yang
begitu kelelahan. Namun senyumannya tergaris indah disudut bibirnya. Lamunan
itu mengingatkanku 10 tahun silam. Pada waktu itu, aku genap berusia 8 Tahun
dan mengenyam pendidikan di sekolah dasar
yang terbaik di kampungku. Aku digendong wanita itu, ia begitu kuat dan
semangat mengantarkanku ke sekolah. Keringatnya bercucuran menembus baju dan
kerudungnya. Aku terbahak-bahak digendongannya. Ia bercerita sepanjang jalan,
hingga beberapa menit sekali aku tertawa.
“kancil
itu terbang ke awang-awang, lalu hinggap di pulau bidadari dan ia mencintai
bidadadari itu”. Ujar ibu sambil menggendongku.
Kalau
ingat cerita itu, aku menggaruk kepala
dan tertawa sendiri. Bayangkan saja bagaimana tidak tertawa !, mana ada kancil yang
bisa terbang. Aku tertawa semakin menjadi-jadi dan berhenti seketika saat ibu
berlari, karena mendengar bel di sekolah sudah berbunyi. Ibu memang tidak
pernah membuatku susah, sedih, kecewa, dan kesiangan sekalipun. Hanya saja
karena saking asyik bercerita dan menggendongku, ibu lupa bahwa waktu itu cepat
berputar. Hingga sampai lingkungan sekolahpun, bel sudah berbunyi.
Diturunkannya aku dari gendongannya, dan dipakaikannya kepadaku tas gendong
bergambar hello kitty.
“belajar
yang benar, jadi anak pintar, shaleh,
dan banggakanlah mamah” ucap dia tiap hari sambil mengecup jidat dan kedua
pipiku. Lalu ku balas ciuman dia dengan mencium kedua pipinya.
“dadah
mamah, jemput lagi ya pulangnya !” ujarku sambil berlari kedalam kelas.
Itulah rutinitas ibu ketika denganku, begitu
romantic dan manja.
Setiap
pagi aku disisir dan diikatkan rambut dengan dua tali, disuapin, digendong,
dijemput, hingga sampai ditidurkan saat malam tiba. Ibu bagaikan ayah dan
sahabat, yang selalu ada tidak pernah meninggalkanku dnan selalu mengerjakan
semua tugas-tugasnya…………..
“ah,,,
apa sih , kok jadi mellow kayak gini!” ujarku saat mengusap air mata yang tak
terasa mengalir deras dipipiku.
Kututup
jendela dan ku mulai berbaring, menutup mata dengan menumpukan bantal-bantal
dan menyelimuti seluruh tubuh dengan badcover yang tebal.
‘’
kalau beliau menyayangiku tak mungkin ia tega meninggalkan ku saat itu. Aku
benci dia….’’ Protesku dalam hati.
****
Allahuakbar
allahu akbar…….
‘’eump,
udah pagi toh’’ sambil menggesek – gesek mata.
Pagi
itu aku mandi dan segera siap siap untuk mengikuti kajian di masjid fallah
bersama ustadzah maemunah.ustadzah maemunah adalah ustadzah terbaik dan
terdekat dengan ku,sehingga kami sudah seperti anak dan ibu kala bersama. Dari
ustadzah maemunah juga aku belajar mengaji dan belajar memakai kerudung.
Masih
ingat, waktu itu aku kelas viii smp. Aku bersama beliau pergi kesebuah pasar
dan beliau membeli peralatan kerudung anaknya ka Zahra. Tanpa aku sadari dia
bertanya Tanya warna apa yang bagus,ukurannya,serta modelnya yang aku sukai.
’’heran
ustadzah, masa beli buat anaknya nanya nanya aku’’ ujarku menggerutu.
‘’
ustadzah ini buat ka Zahra kan?’’ Tanya ku penasaran.
‘’
heee, bagus kan?, ini buat kamu nak khumairoh’’ sambil tersenyum.
Akupun
terkejut saat mendengar pernyataan ustdzah maemunah berbicara seperti itu.
‘’
nak khumairoh, ibu sudah menganggap anak kepada nak khumairoh. Ibu sayang
kepada nak khumairoh, bolehkan ibu meminta nak khumairoh memakai jilbab?’’
Tanya beliau pada ku.
Aku
hanya bisa diam saat itu…….
***
oh
ya,aku berangkat ke masjid fallah untuk menceritakan
semua bayang - bayang serta semua mimpi – mimpi dua pekan lalu.
‘’
assalamualaikum, ustdzah?’’
‘’
wa’alaikumsalam Wr. Wb. Nak khumairoh’’ Ujar ustadzah memunah.
Saat
itu aku begitu bersemangat untuk bercerita pada ustadzah maemunah.
‘’AA
ZZ AA ZZ AA zz’’ ku bercerita,
tanpa titik koma sambil agak
kesal.
‘’nak, tahukah kamu surga ada dimana?,tentunya
nak khuimairoh pasti tahu kan?. Surga itu ada di telapak kaki ibu.
‘’
ya, tahu ustadzah. Lalu?’’
‘’
lalu kenapa nak khumairoh begitu kesal dan kecewa sama ibu nak khuimairoh?,m
padahal nak khumairoh tidak tahu apa alasan beliau sebenarnya.’’ Ujar bu
ustadzah kepada ku.
‘’
nak, jadi begini ceritanya…
‘’
ibu nak khuimairoh waktu itu bercerai dengan ayah nak khumairoh, lalu beliau menyerahkan nak khumairoh kepada
ayah nak khumairoh. Karena ibu nak khumairoh tidak ingin nak khumairoh
sengsara,hidup dengan beliau.kalo nak khumairoh bersama ibu, berarti nak khumairoh akan
sengsara,penghasilan buruh cuci yang hanya cukup untuk makan seorang dan itu
pun alakadarnya tidak mungkin bisa menyekolahkan nak khumairoh. Sedangkan jika
nak khumairoh bersama ayah, nak khumairoh akan sekolah setinggi mungkin dan
akan menjadi orang seperti sekarang ini. Nak, itu semua ia lakukan karena ia
sayang padamu. Jadi tak semua kesalahan ada pada diri ia,karena ia tidak tahu
dan tidak berpendidikan saat itu,nak khumairoh harus mengerti juga kepada ibu.
Sebagai seorang ibu,ibu juga pasti akan berbuat seperti itu demi kebahagiaan
anaknya, dan mengorbankan perasaan rindunya. Mungkin jika saat ini nak
khumairoh selalu di bayang- bayangkan oleh sosok beliau, bisa saja ia menangis
menahan rindu sekarang.’’ Ujar bu ustadzah.
Aku
menangis sedih dan malu kepada diri sendiri, bahwa selama ini aku sudah
mendzolimi ibu secara tidak langsung. Dan rasanya tak ada gunanya aku ikut
pengajian tiap hari jika ibu sendiri tersakiti oleh sikap ku.
‘’
mamah ‘’ ujarku pelan
Segera
ku pamit ke ustadzah khumairoh dan bergegas pergi ke perkampungan terpencil di
sebuah kota di daerah timur Indonesia. Dua jam menempuh perjalanan darat dan
satu jam perjalanan udara, akhirnya aku sampai di tempat yang aku tuju. Seorang
ibu renta,yang keriput dan bungkuk Nampak jelas berdiri membelakangi
‘’
ibu, maafkan aku, aku sudah jadi anak yang durhaka kepada mu, aku membiarkanmu
bersedih dan menangis menahan rindu.’’ Ujar ku sambil terisak isak.
‘’
tak mengapa nak, ibu ikhlas asalkan kamu bahagia nak.’’ Kata beliau sambil
memelukku.
Ku
peluk balik beliau dengan sangat erat.
‘’
Bagiku, ibu ibaratkan sang surya, sinarnya yang begitu terang tanpa henti
menyinari. Kalau siang ia begitu cantik dengan sinarnya yang panas dank ala
malam ia begitu anggun dengan sinarnya yang mengedip- ngedip. Sang surya tetap
menyinari sedangkan lentera di malam itu mati seketika saat ia tersiram air.
Kasih sayang ibu tiada bandingannya walaupun dibeli oleh miliaran rupiah tak
akan terbayarkan.’’ Gumamku dalam hati.
Kini
di bawah langit senja, Di upuk timur ku temui lentera hidupku dan kurajut
kembali cinta cintanya, mama.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar